Share It
Berita Unik & Terkini

Pelaku Kriminal Dengan Gangguan Jiwa Bisa Dipidana?
September 18, 2020

Pelaku Kriminal Dengan Gangguan Jiwa Bisa Dipidana?

Foto-foto pelaku penusukan Syekh Ali Jaber, berinisial AA, yang beredar di media sosial inilah yang membuat publik ragu pelaku adalah orang dengan gangguan kejiwaan alias orang gila. Foto pelaku layaknya orang normal ini disebut sebagian masyarakat jauh dari ciri gila.

Sebelumnya, pelaku penusukan Syekh Ali Jaber disebut sebagai orang dengan gangguan kejiwaan karena orang tua pelaku mengaku pelaku mengidap penyakit kejiwaan.

Pengakuan orang tua pelaku yang menyebut AA mengalami gangguan jiwa diragukan sejumlah pihak, termasuk Syekh Ali Jaber sendiri.

″Menurut saya ini orang terlatih, bukan sembarangan orang. Ketika dia tusuk saya tujuannya ke leher tapi jatuhnya ke tangan,″ kata Syekh Ali.

Sementara itu apakah warga sekitar mengenal AA sebagai orang dengan gangguan kejiwaan? Ketua RT setempat mengaku tidak mengenal pelaku, karena pelaku baru pindah ke lokasi.

Jika benar AA mengidap gangguan kejiwaan, apakah bisa lepas dari proses hukum dan kasusnya terhenti? 

Ahli hukum pidana Universitas Al Azhar Jakarta, Agus Surono, menegaskan pelaku kejahatan yang diduga memiliki gangguan jiwa tidak serta merta lepas dari tuntutan hukum. Menurutnya bisa terbebas dari sanksi pidana hanya melalui putusan pengadilan.

Sementara itu, psikiater forensik, Agung Frijanto, mengklasifikasikan orang dengan gangguan jiwa menjadi psikotik dan non psikotik, namun keduanya berpotensi melakukan tindakan kriminal.

Orang yang memiliki gangguan psikotik lazimnya memiliki dilusi atau paranoid dan mempertahankan keyakinan yang salah yang bertolak belakang dengan sekitarnya. Penderita gangguan psikotik ini tidak mampu merencanakan, mempertanggungjawabkan, dan mengetahui dampak perbuatannya. Sedangkan nonpsikotik adalah gangguan kepribadian dan depresi. Dia mampu mempertanggungjawabkan perbuatannya.