Share It
Berita Unik & Terkini

Kisah Para Pelaku Sejarah Peristiwa 10 November 1945
November 10, 2020

Kisah Para Pelaku Sejarah Peristiwa 10 November 1945

Peristiwa pertempuran Surabaya 10 November 1945 akan selalu dikenang dalam sejarah bangsa Indonesia karena menunjukkan bahwa bangsa Indonesia tidak akan menyerah dalam mempertahankan kemerdekaannya. Berikut beberapa kisah dari tokoh pelaku sejarah peristiwa nasional yang kemudian diperingati sebagai Hari Pahlawan tersebut:

Sutomo
Tokoh yang lebih dikenal dengan nama Bung Tomo ini sangat identik dengan pertempuran 10 November 1945. Pidatonya yang lantang sering diputar di radio selama pertempuran Surabaya berlangsung mampu membangkitkan semangat Arek-Arek Suroboyo untuk bertempur melawan tentara  Inggris.

Sumber foto: harapanrakyat.com

Pasca revolusi kemerdekaan, Bung Tomo yang tidak lagi aktif di militer sempat menjadi Menteri dan anggota DPR pada tahun 1950-an. Bung Tomo kemudian beralih profesi menjadi pengusaha dan sempat menjadi tahanan politik pada pertengahan tahun 1970-an karena berbeda sikap dengan pemerintah saat itu. Bung Tomo meninggal dunia di Padang Arafah, Arab Saudi pada 7 Oktober 1981 saat tengah menuaikan ibadah Haji.

Moestopo
Pasca Proklamasi Kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, Moestopo dikenal sebagai pemimpin dan komandan militer Indonesia di Surabaya yang cukup disegani. Moestopo dikenal sebagai salah satu penggagas senjata bambu runcing di kalangan pejuang kemerdekaan Indonesia.

Sumber foto: Facebook Majalah Moestopo

Sebelum pecah pertempuran 10 November 1945, Moestopo sempat bertemu dengan utusan tentara Inggris di mana dirinya mengaku tidak senang dengan kehadiran mereka di Surabaya. Pada saat Pertempuran 10 November 1945 terjadi, Moestopo tidak lagi menjabat komandan militer di Surabaya sehingga tidak terlibat pertempuran karena posisinya saat itu sudah berada di Gresik.

Pada tahun 1950-an Moestopo yang pernah mengenyam pendidikan kedokteran gigi pada masa pemerintahan Hindia Belanda mendirikan sekolah dan praktek kedokteran gigi yang berkembang pesat hingga akhirnya melahirkan Universitas Moestopo. Sebagai bentuk pernyataan sikapnya yang anti komunis dan menentang ide Bung Karno tentang Nasakom (nasionalis, agama dan komunis), Moestopo menambahkan kata “Beragama” pada nama Universitas miliknya tersebut. Moestopo pensiun dari TNI dengan pangkat terakhir Mayor Jenderal dan meninggal dunia di Bandung pada 29 September 1986 dalam usia 73 tahun.

Raden Mas Tumenggung Ario Soerjo
Tokoh yang lebih dikenal dengan nama RM. Suryo ini merupakan Gubernur Jawa Timur pertama. Selaku Gubernur, RM. Suryo bersama sejumlah tokoh Surabaya beberapa kali bertemu dengan utusan tentara Inggris membahas upaya gencatan senjata antara pejuang Indonesia dengan tentara Inggris yang beberapa kali terlibat bentrok di Surabaya.

Sumber foto: id.wikipedia.org

Tewasnya Komandan tentara Inggris, Brigjen Mallaby membuat situasi makin memanas. Ultimatum tentara Inggris agar pejuang Indonesia menyerahkan semua persenjataan paling lambat tanggal 9 November 1945 membuat pejuang dan rakyat Surabaya semakin geram. Dalam pidatonya di radio, RM. Suryo mengajak seluruh rakyat Surabaya untuk melawan tentara Inggris hingga darah penghabisan. Kutipan pidato RM. Suryo yang terkenal adalah ucapan “Merdeka atau Mati”. Selama pertempuran berlangsung, RM. Suryo tetap berada di Surabaya sebelum akhirnya mengungsi untuk membangun pemerintahan darurat di Mojokerto.

Ironisnya, setelah berhasil selamat dari pertempuran di Surabaya melawan tentara Inggris, dirinya justru tewas di tangan bangsanya sendiri pada 9 November 1948. RM. Suryo yang saat itu menjabat sebagai Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Agung RI tewas dibunuh oleh simpatisan PKI saat mobil yang membawanya dicegat dan diberhentikan secara paksa di sekitar daerah Ngawi, Jawa Timur.

Doel Arnowo
Doel Arnowo adalah salah satu tokoh dalam peristiwa Pertempuran 10 November 1945. Bersama RM. Suryo, Moestopo, Roeslan Abdulgani serta beberapa tokoh Surabaya lainnya menentang kehadiran Inggris di Surabaya.

Sumber foto: surabayastory.com

Pada tahun 1950 Doel Arnowo diangkat sebagai Walikota Surabaya yang pertama sejak Indonesia merdeka. Pada masa kepemimpinan inilah ia mengusulkan pembangunan Tugu Pahlawan Surabaya yang kemudian diresmikan oleh Presiden Soekarno pada 10 November 1952. Doel Arnowo meninggal dunia di Surabaya pada 18 Januari 1985.

Roeslan Abdulgani
Tokoh yang biasa disapa Cak Roes ini merupakan salah satu tokoh penting dalam peristiwa Pertempuran 10 November 1945. Kedekatannya dengan Bung Karno membuat dirinya dikenal di kalangan pejuang dan rakyat Surabaya. Cak Roes bahkan sempat terlibat sejumlah pertempuran di Surabaya.

Sumber foto: tempo.co

Pasca revolusi kemerdekaan, Cak Roes lebih banyak berkarir dalam pemerintahan di mana dirinya sempat dipercaya untuk menjabat sebagai Menteri Luar Negeri, Menteri Penerangan hingga Wakil Perdana Menteri serta Duta Besar Indonesia untuk PBB. Cak Roes meninggal dunia di Jakarta pada 29 Juni 2005.

AI