Share It
Berita Unik & Terkini

Fakta Menarik Bung Tomo yang Kamu harus Tahu
November 10, 2020

Fakta Menarik Bung Tomo yang Kamu harus Tahu

Siapa yang tidak mengenal sosok Bung Tomo ? Pahlawan nasional yang namanya sangat identik dengan “Pertempuran 10 November 1945” di Surabaya ini ternyata memiliki sejumlah fakta yang unik dan menarik lho! Berikut fakta-faktanya.

Seorang jenderal
Banyak yang mengira Bung Tomo hanya seorang pejuang lokal yang mengobarkan semangat perlawanan terhadap tentara Inggris saat Pertempuran 10 November 1945 di Surabaya. Pada kenyataannya, Bung Tomo kemudian dilantik oleh Presiden Soekarno di Yogyakarta pada 5 Oktober 1947 sebagai salah satu pucuk pimpinan tinggi TNI bersama Jenderal Sudirman, Letnan Jenderal Urip Sumoharjo, Komodor Surjadarma, dan Laksamana Nazir sebagai koordinator Angkatan Darat dengan pangkat Mayor Jenderal. Jabatan tersebut merupakan puncak karir militer Bung Tomo di TNI.

Sumber foto: tawangsarikampoengsedjarah.wordpress.com

Anggota menteri kabinet dan anggota DPR
Pasca revolusi kemerdekaan, Bung Tomo tidak lagi aktif sebagai prajurit TNI dan memilih berkarir di bidang politik. Bung Tomo pernah dipercaya menjabat sebagai Menteri Negara Urusan Bekas Pejuang Pejuang Bersenjata/Veteran dan Menteri Sosial Ad Interim (1955-1956).

Sumber foto: tempo.co

Bung Tomo juga pernah menjadi anggota DPR RI dari partai yang didirikannya, yakni Partai Rakyat Indonesia (PRI) pada tahun 1956 hingga 1959.

Pernah dekat dengan Bung Karno
Sebagai sesama orang Surabaya, Bung Karno dan Bung Tomo dikenal memiliki hubungan kedekatan khusus terutama pada saat terjadinya Pertempuran 10 November 1945. Bahkan pada awal tahun 1950-an Bung Tomo sering diajak mendampingi Bung Karno dalam sejumlah kunjungan resmi Presiden ke sejumlah daerah.

Sumber foto: tempo.co

Namun, hubungan baik keduanya menjadi renggang ketika Bung Tomo dianggap terlalu mencampuri urusan pribadi Bung Karno yang saat itu tengah menjalin hubungan dengan Hartini. Sejak saat itu Bung Tomo jarang berkomunikasi lagi dengan Bung Karno.

Mahasiswa Universitas Indonesia
Siapa sangka Bung Tomo sebenarnya adalah mahasiswa Universitas Indonesia (UI). Bung Tomo berkuliah di UI sejak tahun 1959 pada saat usianya 39 tahun dengan mengambil jurusan Fakultas Ekonomi. Namun, situasi politik yang memanas pasca G30S/PKI tahun 1965 membuatnya aktif mendukung gerakan mahasiswa sehingga baru bisa mulai menyusun skripsi pada tahun 1968 dengan dibimbing langsung oleh pakar sosiologi ternama, Selo Soemardjan.

Penelitian skripsi Bung Tomo mengambil tema pembangunan ekonomi pedesaan dan penelitiannya dilakukan di sejumlah desa di kawasan Indonesia bagian tengah, seperti Bali dan Nusa Tenggara. Skripsi ini sudah selesai, tetapi belum sempat diuji karena Bung Tomo keburu wafat saat menuaikan ibadah Haji tahun 1981.

Pernah menjadi tahanan politik
Meskipun dikenal sebagai tokoh pejuang nasional dalam peristiwa Pertempuran 10 November 1945 di Surabaya, tetapi Bung Tomo ternyata pernah dipenjara dan menjadi tahanan politik.

Sumber foto: tempo.co

Bung Tomo ditahan pada tahun 1978-1979 karena mengkritik pembangunan Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Bung Tomo menjalani masa penahanannya di penjara Nirbaya daerah Kramat Jati, Jakarta Timur.

Penulis buku yang handal
Sepanjang hidupnya Bung Tomo sudah menulis lima judul buku, yakni Kepada Bangsaku (1946), 10 November 1945 (1952), Koordinasi dalam Republik Indonesia (1953), Kemana Bekas Pejuang Bersenjata (1953), dan Gerakan 30 September (1966).

Wafat saat menuaikan ibadah haji
Bung Tomo wafat di Padang Arafah, Arab Saudi pada tanggal 7 Oktober 1981 saat melaksanakan ibadah Haji dalam usia 61 tahun. Jenazah Bung Tomo sempat dimakamkan di Padang Arafah sebelum akhirnya berhasil dipulangkan oleh Pemerintah RI untuk kemudian dimakamkan di Pemakaman Umum Ngaggel, Surabaya.

Dianugerahi Pahlawan Nasional sejak tahun 2007
Bung Tomo dikenal luas masyarakat Indonesia atas perannya membakar semangat pejuang Surabaya dalam melawan tentara Inggris pada Pertempuran 10 November 1945. Namun, Bung Tomo baru secara resmi diakui sebagai Pahlawan Nasional pada tahun 2007 atau 26 tahun setelah kematiannya pada tahun 1981. Pemberian penghargaan Pahlawan Nasional tersebut diserahkan langsung oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono kepada istri Bung Tomo, Hj. Sulistina Sutomo pada 9 November 2007 di Istana Negara, Jakarta.

AI