Share It
Berita Unik & Terkini

Presiden Indonesia Ini Sempat Khawatir Keluarganya Mengalami Nasib Serupa dengan Keluarga Tsar Rusia Terakhir
June 9, 2021

Presiden Indonesia Ini Sempat Khawatir Keluarganya Mengalami Nasib Serupa dengan Keluarga Tsar Rusia Terakhir

Tragedi keluarga Tsar terakhir Rusia, Nicholas II Romanov, tercatat merupakan salasatu peristiwa tragis yang terjadi pada abad ke-20 dalam sejarah dunia. Pemimpin monarki terakhir kerajaan Rusia, Tsar Nicholas II Romanov, beserta keluarga inti kerajaan lainnya dikumpulkan dalam sebuah ruangan yang sama untuk kemudian dibunuh oleh sekelompok polisi rahasia dari kelompok revolusioner Komunis Bolshevik Soviet pada 17 Juli tahun 1918. Nasib akhir hidup tragis yang menimpa keluarga Romanov tersebut ternyata pernah dikhawatirkan bakal dialami juga oleh salasatu Presiden Indonesia.

Adalah Bacharuddin Jusuf Habibie atau B.J. Habibie, Presiden ketiga Indonesia yang pernah khawatir dirinya dan keluarganya mengalami nasib tragis seperti yang dialami dinasti keluarga kerajaan Rusia terakhir tersebut. Hal ini diutarakan sendiri oleh Habibie, begitu ia bisa disapa dalam buku yang ditulis olehnya yang berjudul Detik-Detik yang Menentukan: Jalan Panjang Indonesia Menuju Demokrasi.

Dalam buku yang kali pertama dirilis tahun 2006 tersebut, Habibie menceritakan peristiwa yang dialaminya pada tanggal 22 Mei 1998 atau sehari setelah dirinya diangkat menjadi Presiden Indonesia ketiga menggantikan Soeharto yang kala itu menyatakan berhenti dari jabatan Presiden karena tekanan dan krisis politik 1998.

Pada saat itu, Habibie tengah berada di ruang kerja Presiden yang terletak di Istana Merdeka sementara istrinya, Ibu Hasri Ainun Habibie, berada di kediaman pribadi mereka di kawasan Patra Kuningan, Jakarta Selatan. Adapun anak-anak Habibie, yakni Ilham Akbar Habibie dan Thareq Kemal Habibie beserta keluarganya juga sedang berada di luar kota.

Protokol Presiden kemudian masuk ke ruang kerja presiden melaporkan bahwa seluruh anggota keluarga inti presiden, yakni istri, anak, menantu, dan cucu sudah berada di Wisma Negara yang letaknya tepat di belakang samping Istana Medeka. Pada saat itu, Habibie terkejut mendengar laporan tersebut karena dirinya justru merasa lebih aman dan nyaman jika anggota keluarganya tetap di tempatnya masing-masing. Habibie mengaku sempat cemas nasib keluarganya bakal seperti keluarga Tsar Nicholas II Romanov yang dipaksa pindah dari satu tempat ke tempat lainnya sebelum akhirnya dikumpulkan dalam sebuah ruangan di sebuah rumah di daerah pedalaman Rusia dan semuanya kemudian dieksekusi mati.

Sumber foto: wikipedia.org

Ternyata, tanpa sepengetahuan Habibie, Paspampres berinisiatif menjemput Ibu Negara, Hasri Ainun Habibie dan kedua anak Habibie untuk dikumpulkan di Wisma Negara. Alasan sebenarnya yaitu lantaran kondisi keamanan belum menentu . Konon, anak kedua Habibie, Thareq Kemal bahkan harus dijemput langsung dengan helikopter dari Bandung menuju Jakarta. Ketika akhirnya Habibie bertemu dengan mereka di Wisma Negara, semua anggota keluarganya tampak cemas dan tegang karena tidak ada yang tahu sampai kapan mereka harus berada di sana dan apa yang akan terjadi selanjutnya.

Habibie sendiri mengajak seluruh anggota keluarganya untuk terus berdoa dan berserah diri kepada Allah SWT agar situasi keamanan bisa segera kondusif dan keadaan kembali normal. Keluarga Habibie tersebut kemudian tinggal selama beberapa hari di Wisma Negara dan kembali ke kediaman masing-masing setelah situasi Ibukota Jakarta berangsur pulih dalam beberapa hari kedepannya.

Wajar jika Habibie saat itu merasa cemas karena kisah peristiwa kematian keluarga Tsar Nicholas II Romanov terbilang kejam dan sudah dikenal luas di kalangan sejarawan maupun pecinta sejarah dunia. Pasca digulingkan sebagai Raja Rusia oleh kelompok revolusioner Bolshevik, Tsar dan keluarganya menjalani penahanan di sejumlah lokasi di Rusia sebelum akhirnya dibawa ke sebuah rumah di Yekaterinburg, Rusia dan aktifitas mereka pun sangat dibatasi.

Sumber foto: history.com

Menjelang tengah malam, tanggal 17 Juli 1918, seluruh keluarga Tsar dan beberapa orang pembantu setia mereka diminta untuk berkumpul di ruangan bawah tanah rumah yang mereka tempati. Mereka diberitahu untuk bersiap dipindahkan ke lokasi baru karena kondisi di Yekaterinburg yang tidak aman. Setelah semuanya sudah berkumpul, kepala penjaga rumah tersebut, Yakov Yurovsky, memberitahu Tsar Nicholas II bahwa mereka semua akan dieksekusi mati saat itu juga atas perintah pemerintah Uni Soviet yang berkuasa.

Ketujuh orang anggota kerajaan terakhir Rusia bersama empat pembantu setianya tersebut akhirnya tewas ditembak dengan pistol. Berdasarkan hasil penyelidikan, total sebanyak 70 butir peluru ditembakkan kepada keluarga Tsar dan pembantu mereka saat proses eksekusi dilakukan. Para eksekutor sempat kaget ketika keempat putri Tsar ternyata masih hidup meskipun terluka usai ditembak berkali-kali.

Setelah diperiksa ternyata di balik gaun yang dikenakan para wanita-wanita muda tersebut tersimpan sejumlah perhiasan batu permata dan berlian yang sengaja disembunyikan. Akhirnya, selain ditembak, tubuh mereka juga ditusuk oleh pisau bayonet. Ironisnya, jasad mereka kemudian juga dibakar dan dikubur di tengah hutan sekitar 15 km dari kota Yekaterinburg.

AI