Share It
Berita Unik & Terkini

Mengenal Pindad, BUMN Persenjataan Militer Asal Bandung
August 11, 2021

Mengenal Pindad, BUMN Persenjataan Militer Asal Bandung

Indonesia merupakan satu dari sedikit negara di Asia yang memiliki industri pertahanan dalam negeri untuk memenuhi kebutuhan militernya. TIdak heran jika kekuatan militer Indonesia cukup disegani. Indonesia memiliki sejumlah BUMN yang mendukung industri pertahanan nasional seperti Dirgantara Indonesia, PAL, Dahana, dan Pindad. Di antara BUMN strategis tersebut, Pindad memiliki reputasi baik dalam memproduksi dan mengembangkan persenjataan militer bahkan sebelum Indonesia merdeka.

Sejarah Pindad sendiri berawal sejak masa pemerintahan Hindia-Belanda saat Gubernur Jenderal Belanda, William Herman Daendels mendirikan Contructie Winkel (CW), yakni bengkel persenjataan Belanda di Surabaya tahun 1808. Daendels juga mendirikan bengkel amunisi berkaliber besar Proyektiel Fabriek (PF) dan laboratorium Kimia di Semarang. Pada tahun 1850, pemerintahan Hindia-Belanda mendirikan Pyrotechnische Werkplaats (PW), yakni bengkel amunisi dan bahan peledak untuk angkatan laut Belanda di Surabaya.

Pasca Perang Dunia Pertama, pemerintahan Hindia-Belanda merelokasi industri pertahanan ke Bandung karena dianggap lebih aman dari segi geografis. Bandung juga dinilai sangat strategis karena sudah memiliki sarana transportasi darat yang dilalui Jalan Raya Pos (De Grote Postweg) dan jalur kereta api Staats Spoorwegen. Relokasi ini dilakukan pada rentang waktu 1918-1920 dan dilanjutkan kembali pada tahun 1932. Pemerintahan Hindia-Belanda kemudian melebur seluruh industri pertahanan mereka menjadi Artilerie Inrichtingen (AI).

Pada masa pendudukan Jepang, keberadaan industri pertahanan ini mendapat perhatian khusus dari tentara Jepang. Industri tersebut berperan penting dalam mendukung kebutuhan persenjataan militer Jepang yang tengah berperang di kawasan Asia. Meskipun Jepang akhirnya kalah perang dan bangsa Indonesia memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, tetapi Jepang tetap menguasai industri pertahanan ini. Pejuang Indonesia baru bisa menguasainya dari tentara Jepang pada 9 Oktober 1945. Nama ACW pun dirubah menjadi Pabrik Senjata Kiaracondong.

Agresi Militer Belanda membuat Pabrik Senjata Kiaracondong kembali dikuasai oleh tentara Belanda selama masa perang revolusi kemerdekaan. Pabrik Senjata Kiaracondong bahkan dibagi menjadi dua pabrik, yakni  Leger Produktie Bedrijven (LPB) dan Central Reparatie Werkplaats. Tentara Belanda baru menyerahkan LPB setelah Konferensi Meja Bundar (KMB) yang menyatakan bahwa Belanda mengakui kedaulatan Indonesia kepada Republik Indonesia Serikat (RIS) pada tanggal 27 Desember 1949. Belanda pun harus menyerahkan seluruh asetnya kepada pemerintah Indonesia.

LPB kemudian dikelola TNI Angkatan Darat dan berganti nama menjadi Pabrik Senjata dan Mesiu (PSM) yang memproduksi senapan, amunisi dan sejumlah peralatan militer lainnya. Pada 1 Desember 1958, PSM kembali diubah namanya menjadi Pabrik Alat Peralatan Angkatan Darat (Pabal AD) dan mulai memproduksi dan mengembangkan persenjataan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.

Sumber foto: pindad.com

Pabal AD diubah namanya menjadi Perindustrian TNI Angkatan Darat (Pindad) pada tahun 1962. Tahapan pengembangan pada era Pindad lebih berfokus pada tujuan pembinaan yang disesuaikan dengan prinsip pengelolaan terpadu dan kemajuan teknologi mutakhir. Proses produksi Pindad dilakukan untuk mendukung kebutuhan TNI AD.

Pada 31 Januari 1972, pemerintah mengubah kembali namanya menjadi Kopindad (Komando Perindustrian TNI Angkatan Darat). Pemerintah berharap Kopindad dapat mengembangkan kemampuan teknologi dan produktivitasnya dalam memenuhi kebutuhan logistik TNI-AD serta mengurangi ketergantungan pada luar negeri. Kopindad diharapkan juga dapat mengembangkan sarana prasarana nonmiliter yang dapat menunjang pembangunan nasional di bidang pertanian, perkebunan, pertambangan, industri dan transportasi baik untuk instansi pemerintah, swasta maupun masyarakat luas. Pada 28 April 1976, nama Kopindad dikembalikan menjadi Pindad.

Sumber foto: pindad.com

Pada tahun 1981, B.J. Habibie, selaku Ketua BPPT, membentuk Tim Corporate Plan (Perencana Perusahaan) Pindad yang terdiri dari unsur BPPT dan Dephankam. Menurut Habibie, Pindad harus dapat memproduksi peralatan militer yang dibutuhkan secara efisien dan  menghasilkan produk komersial berorientasi bisnis. Berdasarkan hasil kajian Tim Corporate Plan akhirnya diputuskan bahwa komposisi produksi Pindad, yaitu 20% produk militer dan 80% komersial atau nonmiliter.

Tugas pokok Pindad sendiri, yaitu menyediakan dan memproduksi produk-produk kebutuhan Dephankam, seperti amunisi, senjata, dan peralatan militer lainnya untuk menghilangkan ketergantungan terhadap produk asing. Tugas pokok kedua, yaitu memproduksi produk komersial seperti mesin perkakas, produk tempa, air brake system, perkakas, dan peralatan khusus pesanan.


Sumber foto: militermeter.com

Pada 29 April 1983, Pindad resmi beralih status dari sebelumnya di bawah naungan Departemen Pertahanan dan Keamanan menjadi Perseroan Terbatas (PT), dengan nama baru sebagai PT. Pindad (Persero). Tanggal tersebut diperingati sebagai hari ulang tahun Pindad.

Kini, Pindad menjadi salasatu BUMN sektor strategis yang mendukung kebutuhan alutsista (alat utama sistem persenjataan) TNI dan memperkerjakan sekitar 3.000 karyawan. Produk andalan Pindad saat ini antara lain, yaitu panser Anoa, tank Harimau, senapan SS2, serta sejumlah peralatan militer canggih lainnya. 

AI