Share It
Berita Unik & Terkini

Memberikan Pemahaman Soal Kematian pada Anak
August 10, 2022

Memberikan Pemahaman Soal Kematian pada Anak

Ada banyak hal yang menyebabkan anak merasa takut. Salah satunya adalah kematian. Anak mungkin saja takut melihat orang meninggal, tidak bisa menerima salah satu anggota keluarganya telah tiada, atau dibayang-bayangi kecemasan. Menurut psikolog asal Cleveland Clinic, Kate Eshleman, PsyD, menjelaskan tentang kematian kepada anak memang membutuhkan usaha lebih.

Namun, itu bisa dicapai apabila orang yang lebih dewasa memperhatikan usia dan tahap perkembangan anak. 9 prinsip yang perlu diperhatikan saat menjelaskan kematian pada anak "Ketika berjuang (menghadapi kematian), perlu diantisipasi bahwa sulit memberi tahu anak tentang kematian," kata Eshleman.

Lebih lanjut, ia memberi sejumlah cara yang bisa dicoba agar anak tidak merasa takut dan memahami apa itu kematian.


Sumber foto: google.com

1. Terus terang

Sebagian orang dewasa memilih menghaluskan bahasa kematian ketika berbicara dengan anak. Misalnya dengan memberi tahu bahwa kakeknya sudah pergi yang membuat anak bertanya-tanya kapan ia akan pulang.

Menurut Eshleman, bahasa seperti itu justru menciptakan ambiguitas atau makna ganda. Ia lebih menyarankan supaya orang dewasa memberi tahu anak bahwa salah santu anggota keluarganya mengalami sakit yang parah. Kemudian jelaskan kepada si kecil bahwa nyawa orang yang mereka cintai tidak tertolong.

2. Jujur

Anak sebaiknya dijauhkan dari bahasan yang mengerikan atau menakutkan ketika membicarakan kematian. Orang dewasa sebaiknya juga menggunakan bahasa yang mudah agar anak bisa memahami. Dengan begitu orang dewasa dapat mempertahankan kepercayaan di depan anak meski bahasanya tetap sulit dimengerti si kecil. Itu juga membantu mereka jika anak mendengar informasi dari orang lain tentang kematian, baik melalui internet atau teman sekelas.

3. Bertanya dan menjawab pertanyaan

Anak yang kepo tentang kematian mungkin memiliki pertanyaan seputar bahasan ini. Untuk itu, orang dewasa -termasuk orangtua- perlu memberikan jawaban secara jujur berdasarkan usia anak. Mereka sebaiknya juga memberikan jawaban menggunakan bahasa yang faktual tanpa bahasa yang dihaluskan secara berlebih.

"Baik untuk memulai percakapan dengan pertanyaan terbuka," saran Eshleman. "Anda bisa bertanya, 'Menurutmu apa yang terjadi dengan kakek? atau Ke mana ia pergi?'" tambah dia. Di sisi lain, orang dewasa sebaiknya memberikan pertanyaan kepada anak seputar kematian.

Tujuannya untuk membantu anak memahami apa yang sebenarnya sedang terjadi. Dengan begitu orang dewasa punya kesempatan untuk meluruskan kesalahpahaman dan mengatasi kekhawatiran anak.

4. Beri pemahaman

Orang dewasa perlu memberi pemahaman kepada anak sebelum mengajak buah hatinya pergi ke rumah duka, tempat persemayaman, atau makam. Hal yang sama juga bisa dilakukan jika acara perkabungan yang mereka hadiri terdapat orang yang meninggal dalam keadaan tragis. Beri tahu anak apa yang akan mereka lihat, mulai dari peti mati, jenazah, bunga, tangisan, pelukan, dan berdoa. "Penting untuk mendiskusikan cara mereka aman dan cara-cara yang terus kami upayakan untuk menjaga mereka tetap aman," ujar Eshleman.

5. Biarkan anak memutuskan

Anak mungkin tidak ingin menghadiri acara berkabung setelah diberi tahu tentang apa yang terjadi dalam kematian. Maka dari itu biarkan anak untuk mengambil keputusan sendiri. "Sekali lagi, jangan memaksa anak untuk melakukan apa pun yang tidak ingin mereka lakukan," tandas Eshleman.

Ia menambahkan, prinsip yang sama sebaiknya dipahami orang dewasa ketika anak ingin melakukan sesuatu. Seperti tidak ingin melihat jenazah, ingin pindah ke tempat lain, atau melihat anggota keluarga yang sudah meninggal.

6. Beri pemahaman secara agama

Eshleman menyarankan supaya anak diberi pemahaman tentang kematian dalam konsep agama. Seperti bagaimana jenazah akan dikuburkan dan roh orang yang sudah meninggal berada di surga selepas kematian.


Sumber foto: google.com

7. Buat prakiraan

Mengingat orang dewasa memiliki lebih banyak pengalaman hidup maka penting bagi mereka untuk membuat prakiraan seandainya anak diajak ke rumah duka. Itu penting dilakukan karena anak bisa saja menangis atau melakukan hal yang tidak terduga lainnya.

"Sebagai orang dewasa, kita memiliki pikiran, perasaan, dan asosiasi tertentu yang sering kita proyeksikan ke anak-anak," jelas Eshleman. "Bahkan ketika semua orang berduka, anak mungkin tidak merasakan hal yang sama. Itu tidak selalu menjadi saat kesedihan bagi mereka."

8. Biarkan anak merasakan perasaannya

Eshleman mengatakan, ada berbagai perubahan perilaku yang ditunjukkan anak tentang kematian, seperti: Merasa cemas jika berpisah Terlalu bergantung Pola makan dan tidur berubah. Dalam hal ini, respons anak sebaiknya diamati supaya tidak berkelanjutan.

Pasalnya wajar bagi anak untuk mengekspresikan kesedihannya tentang kematian. Di samping itu, akan sangat membantu anak jika melihat orang dewasa merasakan perasaannya juga. Bahkan membiarkan anak menyaksikan reaksi emosional kita tidaklah apa-apa. Reaksi tersebut dikatakan Eshleman mengajari anak bahwa normal untuk mengekspresikan berbagai emosi.

9. Ngobrol

Orang dewasa tidak ada salahnya membicarakan orang yang sudah meninggal dengan anak. Misalnya memberi tahu si kecil apa makanan favorit atau waktu anak terakhir kali pergi bersama almarhum.